Kata Mutiara & Kata Bijak Bung Karno di G30S PKI Yang Mengguncang Dunia hingga Di Takuti Skip to main content

Kata Mutiara & Kata Bijak Bung Karno di G30S PKI Yang Mengguncang Dunia hingga Di Takuti

Ir. Soekarno Hatta (1901-1970) ialah presiden pertama Indonesia yang menjabat menjadi presiden RI pada tahun 1945 – 1966. Sampai sekarang ini, umumnya penduduk Indonesia masih tetap memandang Ir. Soekarno atau biasa di panggil Bung Karno menjadi pemimpin terunggul yang sempat dipunyai oleh Bangsa Indonesia. Soekarno juga adalah orang pertama yang memproklamasikan kemerdekaan, mencetuskan Pancasila serta UUD 45.
Kata Mutiara & Kata Bijak Bung Karno di G30S PKI Yang Mengguncang Dunia hingga Di Takuti

Selama saat kepemimpinannya, Bung Karno diketahui menjadi orang yang mempunyai dampak serta wibawa yang besar, baik didalam ataupun luar negeri. Ir. Soekarno dikenal juga menjadi orator ulung yang dapat memengaruhi serta kobarkan semangat rakyat lewat pidatonya yang berapi – api. Sampai saat ini sudah banyak pidato , baik teks, dokumentasi ataupun rekaman video dari Bung Karno yang begitu populer sampai sekarang ini, seperti pidato mengenai Ganyang Malaysia, To Build The World A New (pidato Ir. Soekarno di muka rapat PBB tahun 1963), Proklamasi Kemerdekaan serta banyak lagi.

Presiden Soekarno wafat pada tahun 1970 sebab penyakit ginjal serta disemayamkan di Blitar pas disamping makam ibunya. Pemerintahan RI mengambil keputusan waktu berkabung saat 7 hari untuk menghargai layanan besar presiden Soekarno saat hidupnya buat bangsa Indonesia.

Berikut sejumlah kecil dari himpunan kata mutiara serta kata bijak Bung Karno saat hidupnya, yang disatukan dari pidato, buku serta biografi Bung Karno.

28 Kata Mutiara & Kata Bijak Bung Karno di G30S PKI

“Berikan saya 1000 orangtua, pasti akan kucabut semeru dari akarnya, beri saya 1 pemuda, pasti akan kuguncangkan dunia”

“Merdeka hanya satu jembatan. Meskipun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama perasaan, satu ke dunia sama ratap sama tangis!”

“Kita ialah bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan meminta – meminta ditambah lagi bila bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan prasyarat ini prasyarat itu ! Lebih baik makan gaplek tapi merdeka daripada makan bestik tapi budak. (dalam satu Pidato HUT Proklamasi tahun 1963)

“Barangsiapa ingin mutiara, mesti berani terjun di lautan yang dalam”

“Laki-laki serta wanita ialah seperti dua sayap dari seekor burung. Bila dua sayap sama kuatnya, jadi terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Bila patah satu daripada dua sayap itu, jadi tidak dapatkah terbang burung itu sama sekali”

“Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai layanan pahlawannya”

“Saya jelaskan jika harapan kita dengan keadilan sosial adalah satu penduduk yang adil serta makmur dengan memakai alat-alat industri, alat-alat teknologi yang begitu moderen. Asal tidak dikuasai oleh skema kapitalisme”

“Apabila didalam diri seorang masih tetap ada perasaan malu serta takut untuk melakukan perbuatan satu kebaikan jadi agunan buat orang itu ialah akan tidak bertemunya ia dengan perkembangan beberapa langkah pun”

“Tuhan tidak mengubah nasib satu bangsa, sebelum bangsa itu mengubah nasibnya”

“Tidak seseorang juga yang menghitung-hitung; berapakah untung yang kudapat kelak dari Republik ini, seandainya saya berjuang serta berkorban untuk mempertahankannya”

“Tetaplah semangat, Elang Rajawali!”

“Perjuanganku lebih gampang sebab mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu semakin lebih susah sebab menantang bangsamu sendiri”

“Jadikan deritaku ini menjadi kesaksian, jika kekuasaan seseorang presiden sekalinya ada batasnya. Sebab kekuasaan yang abadi hanya kekuasaan rakyat. Serta di atas semuanya ialah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”

“Janganlah menduga kita semua cukup sudah berjasa dengan sisi tiga warna. Saat masih tetap ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita tuntas ! Berjuanglah selalu dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat”

“Nasionalisme kita ialah nasionalisme yang membuat kita jadi perkakasnya Tuhan, serta membuat kita jadi hidup di dalamrokh”

“Bangunlah satu dunia dimana semua bangsa hidup dalam damai serta persaudaran”

“Gantungkan harapan mu setinggi-tingginya! Bermimpilah setinggi-tingginya. Bila engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang”

“Kita belumlah hidup dalam cahaya bulan purnama, kita masih tetap hidup di waktu pancaroba, tetaplah semangat elang rajawali “

“Firman Tuhan berikut gitaku, Firman Tuhan berikut mesti jadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya suatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya”(Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno)

“Nasionalisme eropa ialah satu nasionalisme yang berbentuk serang menyerang. Satu nasionalisme yang menguber kepentingan Beograd. Satu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi. Nasionalisme seperti itu tentulah salah, tentulah binasa”

“Sosialisme bermakna terdapatnya pabrik yang kolektif, terdapatnya industrialisme yang kolektif, terdapatnya produksi yang kolektif, terdapatnya distribusi yang kolektif, terdapatnya pendidikan yang kolektif”

“Orang tidak dapat mengabdi pada Tuhan dengan tidak mengabdi pada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin”

“Apakah kekurangan kita? Kekurangan kita adalah kita kurang yakin diri kita menjadi bangsa, hingga kita jadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang meyakini keduanya, walau sebenarnya kita ini aslinya ialah Rakyat Gotong Royong”

“Janganlah lihat ke hari esok dengan mata buta! Waktu yang lalu ialah bermanfaat sekali menjadi kaca bengala daripada waktu yang akan datang”

“Dari pojok positif, kita tidak dapat membangunkan kultur kepribadian kita dengan sebaik-baiknya jika tidak ada perasaan berkebangsaan yang sehat”

“Bangsa yang tidak yakin pada kemampuan dianya menjadi satu bangsa, tidak bisa berdiri menjadi satu bangsa yang merdeka”

“Apakah kita ingin Indonesia merdeka yang golongan kapitalnya menjalar, atau mungkin yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukuplah makan, cukuplah baju, hidup dalam kesejahteraan, terasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukuplah memberikan sandang serta pangan?”

“Seorang Marhaen ialah orang yang memiliki alat yang dikit. Bangsa kita yang beberapa puluh juta jiwa yang telah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang yang lain serta tidak ada orang bekerja buat dia. Marhaenisme ialah Sosialisme Indonesia dalam praktek”

Demikian koleksi Kata Mutiara & Kata Bijak Bung Karno. Mudah-mudahan berguna.

Pencarian Terkait ::

kata kata bijak bung karno untuk pemuda
kata kata bijak bung karno tentang cinta
kumpulan kata kata bijak bung karno
kata kata bijak soekarno dan maknanya
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar